neuroscience di balik warna neon
mengapa mata kita sangat sulit berpaling dari cahaya jenuh
Bayangkan kita sedang berjalan di jalanan kota pada malam hari. Hujan baru saja reda. Suasana agak gelap, jalanan basah memantulkan cahaya jalan, dan tiba-tiba di ujung gang ada satu kedai kecil dengan lampu neon merah menyala sangat terang. Sadarkah teman-teman, betapa sulitnya mata kita untuk tidak menoleh ke arah lampu itu? Padahal, mungkin kita sedang tidak lapar atau tidak ingin mampir. Tapi ada sesuatu dari cahaya pekat yang menembus kegelapan itu yang memaksa kita memperhatikannya. Ini bukan sekadar soal selera estetika ala film cyberpunk. Ketidakmampuan kita untuk memalingkan wajah dari warna-warna super jenuh ini sebenarnya adalah sebuah pembajakan biologis. Otak kita, secara diam-diam, sedang di-hack oleh cahaya.
Mari kita tarik mundur sedikit ke awal abad ke-20. Saat gas neon pertama kali diubah menjadi lampu tabung oleh Georges Claude, dunia langsung terpana. Tiba-tiba, jalanan Paris dan kemudian kasino-kasino di Las Vegas disulap menjadi lautan warna yang tidak pernah ada di alam liar. Warna neon memancarkan kesan modern, energik, namun di saat yang sama, terasa sedikit mengintimidasi. Tapi mengapa otak kita meresponsnya dengan begitu dramatis? Untuk memahaminya, kita harus melihat ke dalam anatomi mata kita sendiri. Di dalam retina kita, terdapat jutaan sel fotoreseptor. Ada sel batang (rods) yang bertugas membantu kita melihat di tempat gelap, dan sel kerucut (cones) yang ahli menerjemahkan warna dan detail. Di sinilah misteri mulai terbangun. Sel-sel mata ini sudah berevolusi selama jutaan tahun untuk membantu leluhur kita bertahan hidup. Mereka dilatih untuk mengenali hijau dedaunan, biru langit, atau merahnya buah apel matang. Lalu, masuklah warna neon ke dalam persamaan ini.
Sekarang coba kita pikirkan sejenak. Berapa kali leluhur pemburu-pengumpul kita melihat warna pink neon yang menyala benderang di tengah padang sabana? Jawabannya: nyaris tidak pernah. Alam natural sangat jarang memproduksi warna dengan tingkat kejenuhan atau saturation sepekat lampu neon atau layar OLED smartphone kita. Kalaupun ada binatang yang berwarna sangat mencolok, seperti katak panah beracun, itu adalah sinyal peringatan alamiah yang mematikan. Jadi, kita dihadapkan pada sebuah anomali. Jika mata dan otak kita dirancang untuk memproses warna-warna alam yang lembut dan bergradasi, mengapa kita justru sangat terpaku pada warna artifisial yang menyilaukan ini? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam jaringan saraf kita ketika cahaya neon menabrak retina? Mengapa otak kita seolah-olah "lupa daratan" saat melihat lampu boks restoran cepat saji atau titik merah notifikasi di layar ponsel?
Jawabannya terletak pada sebuah konsep neurosains evolusioner yang disebut stimulus supernormal (supernormal stimulus). Saat cahaya neon masuk ke mata, ia tidak sekadar memantulkan cahaya seperti benda biasa. Ia memancarkan cahaya dalam panjang gelombang yang sangat sempit, murni, dan terkonsentrasi. Ini membuat sel-sel kerucut di mata kita menembakkan sinyal listrik secara maksimal ke otak. Ledakan sinyal ini langsung menyambar area di otak yang bernama salience network, yaitu sistem radar internal yang bertugas menentukan apa yang paling penting untuk diperhatikan saat ini juga. Karena sinyal dari warna neon ini jauh lebih kuat, lebih pekat, dan lebih terang dari apa pun yang pernah ada dalam sejarah evolusi biologi kita, otak kita panik sekaligus kegirangan. Ia langsung menyimpulkan: "Ini pasti hal yang paling penting di dunia, kita harus memusatkan fokus ke sana!" Otak purba kita tidak bisa membedakan antara ancaman predator berwarna terang dengan lampu papan reklame. Keduanya memicu lonjakan dopamin dan menyita perhatian penuh. Warna neon secara harfiah adalah junk food bagi mata kita; berlebihan, tidak natural, tapi secara biologis mustahil untuk diabaikan.
Mengetahui fakta ilmiah ini, rasanya wajar jika kita sering merasa lelah atau kewalahan di dunia modern. Kita hidup di era di mana ahli pemasaran, arsitek perkotaan, dan desainer teknologi tahu persis cara meretas salience network kita. Layar gawai kita sengaja disetel dengan saturasi warna maksimal. Mata kita terus-menerus disuapi stimulus supernormal tanpa henti dari pagi hingga malam. Jadi, mari kita berhenti menyalahkan diri sendiri ketika kita merasa mudah terdistraksi atau ketagihan melihat layar. Otak kita hanya melakukan pekerjaan yang sudah dilatihnya selama jutaan tahun: memperhatikan sinyal terkuat di lingkungan sekitar agar kita tetap hidup. Namun, karena sekarang kita sudah tahu bagaimana sains di balik trik ini bekerja, kita punya kekuatan untuk memilih. Kita bisa mulai sesekali menurunkan saturasi warna di layar ponsel menjadi hitam-putih, atau sekadar sengaja memejamkan mata sejenak di tengah hiruk-pikuk lampu kota. Kadang-kadang, mengistirahatkan mata dari warna-warni buatan adalah cara paling masuk akal untuk mengambil kembali kendali atas pikiran kita.